Selamat Datang

Hai frens, selamat datang di dunia nyata tapi maya.
Lho kok?? Iya, hakekatnya sih dunia maya, tapi apa yang ada di blog ini adalah buah pikiran dari kejadian nyata yang senantiasa melintas di hadapan kita.
Udah deh, tanpa berpanjang kata. Selamat menikmati blog ini ya. Semoga bermanfaat

Selasa, 22 Juli 2008

Qur'an dan Koran

Qur’an berasal dari kata qara’a yang artinya bacaan sedangkan koran adalah media cetak yang berisikan informasi dan berita, kita biasa menyebutnya surat kabar (suroh khobar). Qur’an berasal dari bahasa Arab sedangkan koran merupakan serapan bahasa Arab yang sudah di-Indonesia-kan. Tetapi saat ini kita tidak hendak membicarakan Qur’an dan koran secara bahasa maupun istilah, melainkan perbedaan penyikapan manusia terhadap keduanya.

Qur’an berasal dari Dzat Yang Maha Benar sedangkan koran diproduksi oleh sekelompok manusia yang senantiasa alpha. Jika Qur’an disampaikan oleh penyalur yang selalu berkata benar dan diterima oleh manusia benar lagi terpercaya maka koran disampaikan oleh manusia yang tidak dijamin kebenarannya. Koran diramu oleh sekumpulan ilmuwan, hartawan, dan wartawan yang mereka tidak dapat membuat seekor nyamukpun. Tapi Qur’an diturunkan dari Zat yang bukan saja seekor nyamuk bahkan alam semestalah yang Dia ciptakan.

Qur’an menceritakan berita dan informasi pada masa dahulu, kini dan yang akan datang secara pasti sedangkan koran memuat informasi dan berita kekinian yang penuh dengan dugaan-dugaan. Jika koran setiap hari menyajikan berbagai permasalahan maka Qur’an setiap saat menghidangkan solusi atas berbagai permasalahan. Saat koran menjadikan pembacanya terhanyut dalam ketakutan, kegetiran, kesenangan atau penuh kekhawatiran maka Qur’an menyadarkan pembacanya akan berbagai kekhawatiran, ketakutan, kegembiraan, dan kesedihan untuk kemudian menjadikan mereka tenang, tenteram, dan mendapatkan jalan terang atas berbagai hal tersebut. Berita Qur’an tetap relevan sepanjang zaman sementara berita koran segera usang walau baru sepekan.

Qur’an diturunkan menjadi penggugah akal sedangkan terbitnya koran tidak jarang menjadi pengeruh akal. Jika kisah-kisah dalam Qur’an membangunkan orang dari kelalaian maka kisah-kisah koran sering membuat orang justru menjadi lalai. Tahukah anda bahwa sebaik-baik kisah adalah kisah yang terdapat dalam Qur’an? Qur’an menjadi penerang menuju jalan yang terang mengeluarkan manusia dari kegelapan tapi koran sering menjadi peredup jalan mengaburkan pandangan dari cahaya kebenaran.

Tiada kebengkokan berita dalam Qur’an, semakin dibaca semakin hilang dugaan kebengkokan itu. Namun dalam koran begitu banyak kebingungan ditemukan, semakin dibaca semakin nyata kebingungannya. Begitulah, keberadaan Qur’an tidaklah menyusahkan namun kehadiran koran belum tentu menyenangkan.

Jika dahulu (zaman sahabat) Qur’an menjadi bacaan sehari-hari, maka kini koranlah yang menggantikan. Padahal koran tidaklah sepadan dengan Qur’an bahkan tidak layak untuk dipadankan, tetapi banyak manusia menjadikan koran sebagai pedoman sedangkan Qur’an hanya pajangan. Lihatlah! Berapa banyak orang stress sesaat setelah membaca koran, namun tengoklah kesejukan jiwa orang yang melafalkan Qur’an.

Satu hal yang mengherankan, seakan Qur’an hanya layak konsumsi bagi nak-kanak (begitu kata kawan saya dari Madura) atau orang tua saja sementara koran menjadi kebutuhan segala usia. Barangkali dikarenakan hanya koran saja yang dijadikan pedoman sementara Qur’an menjadi hiasan, negeri ini banyak dihuni para pencuri (yang terang-terangan maupun tersembunyi). Atau betul juga apa yang dikatakan Dr. Roem Rowi beberapa saat yang lalu bahwa umat ini masih banyak yang hanya bisa ‘membunyikan’ Qur’an tapi belum membacanya, sehingga lebih banyak orang yang paham koran daripada paham Qur’an. Betul?!

Seneng Ngobrol?

Dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary istilah talk memiliki beberapa arti di antaranya say things, speak to give information, have the power of speech, discuss, gossip, give secret information atau conversation, gossip or rumour, informal speech, dan formal discussion. Sedangkan dalam kamus umum bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta istilah ngobrol berasal dari kata obrol yang artinya bercakap-cakap yang bukan-bukan atau yang kurang faedahnya (Hal. 683).

Aktivitas ini merupakan upaya seseorang untuk mengekspresikan isi hatinya atau mengungkapkan keinginan-keinginan yang terlintas dalam fikirannya kepada orang lain yang dipercayainya. Lihat saja, dua orang pemuda lajang yang terlihat asyik berbincang-bincang di dalam sebuah kamar sambil sesekali tertawa cekikikan, sesaat kemudian suasana hening kembali. Apa yang sedang mereka obrolkan? Teman akrab saya mengatakan, “Wah, mereka pasti sedang ngobrolkan masa depan…..”. Dan saya yakin hal in pun terjadi pada kaum hawa, iya kan?

Sebenarnya wajar bila seseorang melakukan aktivitas tersebut, barangkali sebagai bentuk sosialisasi dirinya kepada lingkungan sekitarnya, bukankah manusia adalah makhluk sosial? Tetapi kini, tampaknya ngobrol bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sebagai makhluk sosial saja, bahkan hal ini telah menjadi budaya masyarakat kita yang memang senang bercakap-cakap. Kalau saya tanyakan kepadamu, berapa kali kamu ngobrol dalam sehari? Tiga kali? Lima kali? Tujuh kali? Atau tidak tahu sama sekali karena tidak terhitung jumlahnya? Ini salah satu indikasi betapa ngobrol benar-benar telah menjadi budaya dan kebutuhan kita.

Begitu butuhnya masyarakat untuk ngobrol sehingga bentuknya pun sangat beragam. Kita sering mendengar acara talk show yaitu ngobrol yang di’show’kan. Tidak ada yang dilakukan dalam acara tersebut selain ngobrol dengan mendatangkan seorang pakar. Ada juga yang mengatakan bahwa ngobrol merupakan sarana kita untuk gaul, barangkali alasan ini yang digunakan oleh teman-teman FOKAP ketika mengadakan acara Obrolan Gaul Untuk Unggul di sebuah SMU ternama di Surabaya.

Kita tahu bahwa aktivitas apapun yang kita kerjakan akan mengakibatkan berbagai efek yang mengikuti aktivitas tersebut. Efek yang saya maksud di sini ialah hal-hal yang biasa menyertai saat kita melakukan aktivitas itu. Efek ini akan menentukan seberapa baik kualitas kegiatan yang dilakukan. Orang yang sedang ngobrol tentunya akan dengan spontan merasakan efek dari ngobrolnya itu. Jika obyek obrolannya hal-hal yang lucu serta merta dia akan tertawa. Tetapi jika yang diobrolkannya sesuatu yang mengharukan mungkin dia akan menangis. Begitu seterusnya efek-efek tersebut akan turut menyertai aktivitas yang dilakukannya.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah orang kedua atau kawan ngobrol yang diajak bicara. Di awal sudah saya katakan bahwa ngobrol merupakan bentuk pengungkapan isi hati kepada orang yang dipercayai. Orang yang diajak ngobrol bisa jadi merupakan orang yang special di mata kita. Seorang istri sangat senang ngobrol dengan suami yang dicintainya, sebagai bentuk keinginannya untuk selalu diperhatikan. Bahkan seakan-akan dia tidak ingin sedetikpun luput dari perhatian sang suami. Betul nggak ya?

Nah, kalau kamu rela ngobrol berjam-jam dengan orang yang khusus itu. Seluruh keluh kesah telah kamu sampaikan, semua keinginan telah kamu utarakan, dan seuntai masalah telah kamu kemukakan. Maka saya ingin bertanya, sudahkah kamu melakukannya di hadapan Zat Yang Maha Special? Ngobrol berjam-jam di mal, di pasar, di sekolah, di kampus, di rumah, bahkan di tengah keramaian tempat-tempat hiburan khusus mungkin lebih sering kita kerjakan daripada ngobrol dengan Zat Yang Maha Mendengar di kesunyian malam saat manusia terlelap dalam mimpi-mimpinya. Mungkin kita lebih sering tertawa ketika ngobrol dengan teman kita daripada menangis saat ngobrol bersama Zat Yang Maha Kuasa.

Kalau dari mulut kita keluar kata-kata, “Aku cinta Allah SWT,” sudahkan terbukti dengan seringnya kita ngobrol dengan-Nya sebagai bentuk keinginan kuat kita untuk selalu diperhatikan oleh-Nya? Perhatian dari Zat Yang Maha Special yang hanya dengan perhatian-Nya seluruh kebutuhan dan keinginan kita mudah saja dikabulkan-Nya. Kepuasan jiwa akan kita dapatkan, coba saja kalau nggak percaya.

Lalu bagaimana caranya ngobrol bersama Zat Yang Maha Bijaksana? Bagaimana caranya agar kecintaan kita kepada-Nya benar-benar terbukti? Bagaimana agar kita benar-benar mendapat perhatian khusus dari Allah SWT? Nah, Sekarang juga datangilah kawanmu yang senang tilawah Al Qur’an atau rekanmu yang banyak hafalan Al Qur’annya dan senang melakukan sholat malam lalu tanyakan, “Bagaimana caranya ngobrol dengan Allah SWT?”

Teladan Sebenarnya

Saya teringat nasihat seorang ustadz ketika SMP. “Teladanilah orang yang sudah mati, karena kamu bisa tahu kesudahan orang itu.” Tak kurang tak lebih. Nasehat itu mengingatkan saya untuk melihat orang di ujung hidupnya (saat ajal menjemputnya). Saya jadi teringat hadits ke-4 dari Hadits Arbain An Nawawi. Berikut bagian akhir dari hadits yang cukup panjang tersebut:

Maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (HR. Bukhari)

Teladan itu belum bisa didapat dari orang hidup. Ya, karena kita belum tahu bagaimana akhir dari hidupnya. Keteladanan akan mudah kita raih melainkan dari mereka yang telah berhasil melintasi hidup ini dengan untaian mutiara. Kemilaunya tak pernah berhenti memancar hingga maut menjemputnya.

Banyak orang yang mengukir teladan di masa mudanya, namun mengenaskan saat tuanya. Dahulu begitu banyak orang yang meneladani Bruce Lee, jagoan Kung Fu yang legendaris. Namun sayang, di akhir hayatnya ia meninggal dunia dengan misterius. Entah karena kebanyakan minum alkohol atau karena yang lain.

Di sisi lain ada orang yang masa mudanya meresahkan masyarakat, tapi justru masa tuanya menjadi panutan umat. Di negeri ini siapa yang tak kenal Gito Rollies. Masa mudanya dihabiskan dengan hura-hura dan pesta pora. Bahkan rocker idola kawula muda ini pernah mengendarai sepeda motor telanjang dari Jakarta ke Bandung. Namun saat meninggalkan dunia fana ini, ia pergi dengan ketenangan jiwa. Orang-orang shaleh yang mengiringi jasad Gito menuju peristirahatannya. Semoga Allah SWT menyayanginya.